Who's Online
Ada 27 tamu sedang online


Our Partners
MGC
JTC
Nippon Koei
LAPI ITB
SMEC INTERNATIONAL


Jumlah Pengunjung



Artikel Favorit

 

 











 

 

home mail

Antisipasi Banjir Ditjen Perkeretaapian Siapkan Tim Perbaikan Rel
Selasa, 03 Februari 2009
Jakarta - Intensitas hujan yang tinggi akhir-akhir ini membuat jalur transportasi kereta api rawan. Untuk mencegah hal tersebut, Direktorat Jenderal Perkeretaapian Departemen Perhubungan sudah melakukan persiapan khusus.


"Kalau banjir setiap tahun kita sudah antisipasi dengan menyiapkan beberapa
prasarana yang cukup baik," ujar Dirjen Perkeretaapian Dephub Wendi Aritenang usai membuka acara Workshop Pemangku Kepentingan Perkeretaapian Nasional 2009, di Hotel Borobudur, Jakarta Pusat, Selasa (3/2/2009).


Wendi menerangkan, prasarana yang telah disiapkan berupa bahan-bahan material dan tim pembantu. Tim ini siap bekerja 24 jam di titik-titik rawan banjir.


"Yang sulit adalah menentukan kapan datangnya (banjir)," terang Wendi.
Gangguan akibat banjir, lanjut Wendi, biasanya menyebabkan rel menjadi terapung. Air yang menggenangi bantalan rel akhirnya menggerus permukaan dasar rel. Karena hal ini kereta tidak bisa melaju diatasnya.


"Biasanya kita cepat mengatasi hanya dalam hitungan jam, kecuali kalau relnya panjang dan besar," imbuhnya. Sedangkan untuk penumpang, biasanya dilakukan pemindahan melalui bis umum atau kereta api lainnya. Saat ini Dirjen Perkeretapian telah menyiapkan sejumlah antisipasi di titik rawan banjir. Seperti daerah Banyuwangi, Bojonegoro, dan Semarang. (DETIK.COM)

Jalur Kereta Api Kalisat-Panarukan Segera Dibuka
Senin, 19 Januari 2009
Direktorat Jenderal Perkeretaapian Departemen Perhubungan segera menghidupkan kembali jalur kereta api Kalisat-Panarukan. Jalur bersejarah yang terkenal dengan ‘Gerbong Maut’ ini memiliki panjang jalur sekitar 57 kilometer yang menghubungkan Kabupaten Jember-Kabupaten Bondowoso- Kabupaten Situbondo.

Rencana menghidupkan kembali jalur yang berhenti beroperasi sejak 2004 lalu itu diungkapkan Direktur Jendral Kereta Api, Wendy Aritenang, disela-sela pemantauan jalur kereta api di Stasiun Bangil, Kabupaten Pasuruan, Senin (12/1) siang ini.

Ditanya soal rencana Dirjen KA, Wendy mengatakan, pihaknya sedang berupaya untuk merevitalisasi perkeretaapian. Diantaranya menghidupkan kembali jalur kereta api Kalisat-Panarukan.

Berkaitan dengan hal tersebut, pihaknya selama dua hari mendatang akan melakukan peninjauan serta mengkaji jalur tersebut. Hari ini, kata Wendy pihaknya akan melakukan pemantauan jalur mulai dari Stasiun Bangil hingga Stasiun Banyuwangi. Setelah itu baru memantau ke Panarukan.


Dia menambahkan, ditutupnya jalur Kalisat-Panarukan 2004 lalu dikarenakan sarana dan prasarananya yang jelek. Namun setelah empat tahun ditutup, ada permintaan pemerintah daerah untuk membuka kembali jalur ini.

“Pemerintah daerah setempat meminta Dirjen KA untuk membuka kembali jalur tersebut,” kata Wendy.

Dia tidak menyebutkan berapa alokasi dana yang disiapkan untuk membuka kembali jalur tersebut. “Yang jelas membutuhkan biaya yang besar. Masih kami kaji,” katanya.


Pembukaan jalur ini, kata Wendy, juga dilakukan untuk meningkatkan pelayanan kepada masyarakat.

Sementara itu, Hariyanto, Kepala Hubungan Masyarakat, PJKA Daop 9 Jember menyambut baik rencana pembukaan jalur tersebut. “Pengguna jalur tersebut rata-rata masyarakat kelas ekenomi menengah kebawah,” katanya. DAVID P

Terakhir diperbaharui ( Senin, 19 Januari 2009 )
Ability to Pay (ATP)/ Willingness to Pay (WTP)
Senin, 19 Januari 2009
Ability To Pay (ATP) adalah kemampuan seseorang untuk membayar jasa pelayanan yang diterimanya berdasarkan penghasilan yang dianggap ideal. Pendekatan yang digunakan dalam analisis ATP didasarkan pada alokasi biaya untuk transportasi dari pendapatan rutin yang diterimanya. Dengan kata lain ability to pay adalah kemampuan masyarakat dalam membayar ongkos perjalanan yang dilakukannya. Dalam studi ini, terdapat faktor-faktor yang mempengaruhi ability to pay diantaranya:

1.      Besar penghasilan;
2.      Kebutuhan transportasi;
3.      Total biaya transportasi (harga tiket yang ditawarkan);
4.      Prosentase penghasilan yang digunakan untuk biaya transportasi;

Willingness To Pay
(WTP) adalah kesediaan pengguna untuk mengeluarkan imbalan atas jasa yang diperolehnya. Pendekatan yang digunakan dalam analisis WTP didasarkan pada persepsi pengguna terhadap tarif dari jasa pelayanan angkutan umum tersebut. Dalam permasalahan transportasi WTP dipengaruhi oleh beberapa faktor, diantaranya adalah:

1.      Produk yang ditawarkan/disediakan oleh operator jasa pelayanan transportasi;
2.      Kualitas dan kuantitas pelayanan yang disediakan;
3.      Utilitas pengguna terhadap angkutan tersebut;
4.      Perilaku pengguna;

Dalam pelaksanaan untuk menentukan tarif sering terjadi benturan antara besarnya WTP dan ATP, kondisi tersebut selanjutnya disajikan secara ilustratif yang terdapat ....

Download selengkapnya
Terakhir diperbaharui ( Senin, 19 Januari 2009 )
<< Mulai < Sebelumnya 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Selanjutnya > Akhiri >>

 
 
  PT. Dardela Yasa Guna - Jakarta - Indonesia © copyright 2006 - 2014