Who's Online
Ada 13 tamu sedang online


Our Partners
MGC
JTC
Nippon Koei
LAPI ITB
SMEC INTERNATIONAL


Jumlah Pengunjung



Artikel Favorit

 

 











 

 

home contact Us mail

Dephub dan Pemprov DKI ikut danai MRT
Senin, 12 November 2007
Departemen Perhubungan dan Pemprov DKI Jakarta mulai 2009 sepakat berbagi beban menanggung dana pendamping proyek mass rapid transit (MRT) jalur Lebak Bulus-Dukuh Atas, Jakarta, senilai US$120 juta.Sekjen Departemen Perhubungan Wendy Aritenang Yazid mengatakan dana itu merupakan 15% dari total nilai proyek MRT sebesar US$800 juta yang didanai dari pinjaman Jepang.
 

"Sebagian dana itu akan dianggarkan dari DIPA [daftar isian pelaksanaan anggaran] Dephub dan anggaran Pemprov DKI Jakarta sesuai kesepakatan pinjaman dengan Jepang," katanya, baru-baru ini. Wendy menjelaskan skema pembagian dana pendamping (rupiah murni) akan dibagi antara Dephub dan Pemprov DKI Jakarta dengan komposisi masing-masing 48% dan 52%. Wendy menyatakan ketetapan itu mengacu pula pada hasil kesepakatan pengembalian pinjaman yang akan ditanggung bersama antara Dephub dan Pemprov DKI. "Untuk proses konstruksi pembangunan proyek MRT akan dimulai paling lambat 2010," katanya.


Jepang melalui Japan Bank for International Cooperation (JBIC) akan mendanai proyek MRT sesuai skema pinjaman luar negeri yang besarnya 85% dari total nilai proyek sekitar US$800 juta. Untuk tahap awal, tambahnya, proyek MRT akan dimulai dengan pengerjaan desain teknis atau detail engineering design (DED) yang akan dikerjakan oleh konsultan internasional yang kini proses tendernya telah usai. Direktur Jenderal Perkeretaapian Departemen Perhubungan Soemino Eko Saputro sebelumnya mengatakan pihaknya telah mengirimkan tiga konsorsium konsultan teknik yang dinyatakan lolos prakualifikasi oleh tim seleksi. Dia menjelaskan pihaknya belum bisa mengumumkan ke publik siapa yang akan menjadi konsultan teknik proyek MRT tersebut sebelum pihak JBIC menyetujuinya.

Baca selengkapnya...
Pemprov DIY Akan Kembangkan Trem dan Monorail
Selasa, 14 Agustus 2007
Manajer PT. Ing-Rail Indonesia, Intrias Herlistiarto mengatakan, Pemerintah Provinsi DIY berencana menggunakan jasa konsultan teknik perkereta apian PT. Ing-Rail Indonesia yang merupakan cabang Ing-Rail BV Netherlands Belanda untuk pengembangan transportasi kereta api, trem dan monorail di kota Yogyakarta.

Dikatakan, saat ini pihaknya sedang menjalin kerjasama dengan Pemerintah Provinsi DIY untuk membicarakan secara detil rencana pengembangan transportasi kereta api, mono rail dan trem di kota Yogyakarta. Ing-Rail akan segera melakukan pembicaraan dengan Dinas Perhubungan dan Bappeda Provinsi DIY.

Demikian dikatakan Intrias Herlistiarto Project Manajer PT Ing.Rail Indonesia kepada wartawan usai bertemu dengan Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X di Kepatihan, Danurejan, Yogyakarta, Jum’at (13/7) siang kemarin. Sementara untuk merealisasikan rencana tersebut, akan menggunakan dana hibah dan pinjaman lunak dari Belanda. Untuk tahap studi kelayakan sebesar 135 ribu Euro, berupa Block Grant dan tidak perlu di kembalikan. Setelah nanti pembangunan konstruksi dimulai akan ada komposisi antara hibah dan pinjaman lunak, yakni 65 persen pinjaman lunak dan 35 persen hibah.

“Jumlah total untuk konstruksinya sebesar 45 juta Euro per projek per tahun, jika total proyeknya 90 juta Euro maka dibutuhkan waktu 2 tahun,” ujar Intrias. Ketika ditanya kapan waktu realisasinya, Intrias mengaku belum bisa menjelaskan kepastian waktu, pasalnya tahapan-tahapan yang dilalui masih panjang. Saat ini baru tahapan pengenalan dan belum ada kesepakatan kerja sama.

“Tadi dalam perbincangan dengan Gubernur DIY, nampaknya pilihannya antara trem dan monorail. Yogyakarta lalu lintasnya kan sudah sangat padat, sehingga jika dikembangkan kereta api terlalu membahayakan dan rawan terjadi kecelakaan” ungkap Intrias.

Sumber : http://www.pemda-diy.go.id/berita/article.php?op=Print&sid=3650


Indonesia Railway Industry
Sabtu, 11 Agustus 2007
INKA, state own industry in Indonesia, standing in the year 1981 which is located in Jl. Yos Sudarso, Malang Jawa Timur, broadly are 220.000 m2 with the labour as much 974 people.

INKA , moving towards from stem locomotive workshop in 1981 to the modern railcar manufacture. With the vision to be world class company, the business activity is growing from basic product to the higher value added product and service in railway and transportation business. The mission on business and technology competitiveness creation in railway and transportation products is focused to dominate domestic market and to win competition is ASEAN region and developing countries.


The products of PT INKA for example

  • Passenger Wagon
  • Goods Wagon
  • Cart of Rel Electrics (KRL)
  • Open Wagon
  • Gashholder Wagon
  • Mouseder Card
  • Mobail Medical Car (MMC)
Company Achievement
1982 - Firts productuin of freight wagon
1985 - First production of passenger coach
1987 - First assembly of electric railcar & diversification product
1991 - First export of freight wagon to Malaysia (KTMB)
1994 - First production off electric railcar VVVF
1995 - First launch of new train Argo Bromo
1996 - First production of locomotive (GE Lokindo) & export to philipine
1997 - First launch of train Argo Bromo Anggrek (leasing scheme)
1998 - First export of Ballast Hopper Wagon to Thailand
2001 - First launch of Indonesia Electric Railcar (INKA design)
2002 - Export Power Generating car and Bogie reefer flat wagon to Malaysia
2004 - Export container wagon bodies & Blizzard CS to Australia
2005 - Sign Contract 50 unit Broad Gouge, Bangladesh

Baca selengkapnya...
<< Mulai < Sebelumnya 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Selanjutnya > Akhiri >>

 
 
  PT. Dardela Yasa Guna - Jakarta - Indonesia © copyright 2006 - 2009