Who's Online
Ada 9 tamu sedang online


Our Partners
MGC
JTC
Nippon Koei
LAPI ITB
SMEC INTERNATIONAL


Jumlah Pengunjung



Artikel Favorit

 

 











 

 

home mail

Komersialisasi dermaga perintis butuh waktu 5 tahun
Kamis, 17 April 2008
Pemerintah membutuhkan waktu lima hingga 10 tahun untuk mengomersialkan dermaga penyeberangan perintis yang sebagian besar berada di wilayah timur Indonesia. Dirjen Perhubungan Darat Departemen Perhubungan Iskandar Abubakar menyatakan berkembangnya pasar dermaga penyeberangan perintis memang membutuhkan waktu yang relatif lama, bergantung pada pertumbuhan penumpang yang ada.

"Semakin cepat pertumbuhannya, komersialisasi juga bisa dilakukan dengan cepat" katanya kepada Bisnis kemarin. Dephub menilai komersialisasi bisa dilakukan dalam bentuk pengelolaan dermaga dan penyediaan kapal oleh pihak swasta seperti yang telah terjadi di penyeberangan Merak-Bakauheni dan lainnya yang sudah ramai. Pada tahun ini baru terdapat satu perusahaan swasta yang mengajukan izin untuk menyediakan kapal penyeberangan rute perintis di wilayah NTT.

Direktur Angkutan Sungai Danau dan Penyeberangan (ASDP) Dephub Wiratno mengungkapkan pada tahun ini pemerintah akan membangun 15 hingga 19 dermaga penyeberangan perintis di berbagai wilayah Indonesia.

Dana yang dibutuhkan untuk membangun satu unit dermaga� adalah sekitar Rp30 miliar yang akan dipenuhi dalam jangka waktu sekitar lima hingga enam tahun sejak pembangunan awal.

Secara keseluruhan, pemerintah berencana membangun 38 dermaga yamg tersebar di seluruh Indonesia tahun ini. Sektor ASDP akan memeroleh alokasi dana APBN sebesar Rp1,2 triliun atau meningkat dari tahun sebelumnya sekitar Rp800 miliar. Khusus biaya operasional di 72 lintasan perintis, pemerintah mengucurkan alokasi dana APBN kepada PT ASDP Indonesia Ferry (Persero) hampir Rp100 miliar atau naik dari tahun sebelumnya sebesar Rp80 miliar.

Baca selengkapnya...
Civitas UNSRI menikmati fasilitas Moda Transportasi Kereta Api
Kamis, 13 Maret 2008
Mahasiswa Universitas Sriwijaya atau Unsri mulai hari ini dapat menggunakan kereta api sebagai sarana transportasi dari Palembang ke Kampus Unsri di Indralaya, Kabupaten Ogan Ilir. Peresmian jalur kereta api mahasiswa berikut stasiun dan jembatan penyeberangannya dilakukan hari Senin (3/3).

Gubernur Sumatera Selatan Syahrial Oesman dalam sambutannya mengatakan, setelah stasiun dan jalur kereta api diresmikan akan disusul dengan pengadaan shuttle bus dari stasiun ke setiap fakultas.

"Bulan September akan datang lagi satu rangkaian kereta api dilengkapi pendingin udara. Pemerintah provinsi akan memberikan subsidi karcis kereta api Rp 1.000 dari harga tiket Rp 4.000 per mahasiswa,"¯ kata Syahrial.

Menurut Syahrial, dengan beroperasinya jalur kereta api tersebut diharapkan dapat mengurangi jumlah kecelakaan di jalan raya Palembang-Indralaya yang sampai saat ini telah memakan korban jiwa 20-an warga Unsri. Kondisi tersebut, kata Syahrial, kemudian dilaporkan kepada Menteri Perhubungan (waktu itu) Hatta Radjasa dan mendapat tanggapan.

Kepala Dinas Perhubungan Sumsel Ahmad Najib mengutarakan, panjang rel dari Stasiun Kertapati sampai Stasiun Indralaya adalah 26 kilometer, dengan waktu tempuh sekitar 25 menit. Luas stasiun beserta fasilitas pendukung lainnya mencapai enam hektar.

Ahmad Najib menjelaskan, setiap hari, kereta api mahasiswa tersebut akan menjalani dua trip dengan kapasitas 300 penumpang, dan rangkaian kereta api yang akan tiba bulan September berkapasitas 450 orang. Rencananya, pada tahun anggaran 2009 jalur tersebut akan ditingkatkan menjadi jalur ganda (double track).

Pertama di Indonesia

Menurut Direktur Jenderal Perkeretaapian Departemen Perhubungan Wendy Aritenang, kerja sama mengadakan kereta api mahasiswa sudah dijajaki dengan sejumlah perguruan tinggi seperti Universitas Indonesia, Universitas Padjadjaran, dan Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN). Namun, dari sejumlah perguruan tinggi, Universitas Sriwijaya yang pertama kali mewujudkannya.

Rektor Unsri Prof Dr Badia Perizade mengungkapkan, rencana pembangunan kereta api mahasiswa sudah direncanakan 15 tahun lalu ketika kegiatan perkuliahan mulai dipindahkan ke Kampus Unsri di Indralaya.

Proyek ini sangat mahal karena tahun 1993 untuk membangun 1 kilometer rel perlu dana Rp 3 miliar, sekarang sudah mencapai Rp 15 miliar, jadi baru terlaksana sekarang,kata Badia.

Desi (18), mahasiswi Fakultas PGSD Unsri, mengungkapkan, naik kereta api akan memakan waktu lebih singkat dan lebih aman dibandingkan naik bus.

"¯Saya pulang ke Palembang seminggu sekali. Saya baru saja jadi korban pencopet saat pulang naik bus. Mungkin naik kereta lebih aman," ujarnya.(kompas)
KA Jadi Prioritas Pembangunan Transportasi di Jawa
Minggu, 09 Maret 2008
Pemerintah akan membangun jaringan kereta api (KA) di Pulau Jawa dengan prioritas kereta penumpang, baik kereta perkotaan (komuter) jarak jauh maupun menengah.

Pernyataan itu dikemukakan Menteri Perhubungan Jusman Syafii Djamal saat meresmikan pengoperasian KA Prambanan Ekspres Baru dengan rangkaian kereta rel diesel elektrik (KRDE) jurusan Solo - Yogyakarta - Kutoharjo pulang pergi (pp) di Stasiun Solo Balapan, Sabtu.

Pemerintah mengencarkan pembangunan KA perkotaan mengingat perkembangan dan pertumbuhan kota-kota di Jawa diwarnai dengan kepadatan dan kemacetan lalu lintas yang kronis.

"Kemacetan tidak saja memboroskan waktu, biaya, BBM, polusi udara, dan emisi gas buang tinggi. Namun juga menyebabkan turunnya produktivitas ekonomi kota, negara, dan kualitas hidup masyarakat," katanya.

Terkait dengan pengembangan perkeretaapian di Pulau Jawa, katanya, pemerintah daerah dapat mendorong subsektor transportasi perkeretaapian di daerah masing-masing, baik untuk angkutan jarak pendek, sedang, dan jauh, terutama untuk transportasi perkotaan.

Pemberlakuan Undang-undang (UU) Nomor 23 Tahun 2007 tentang Perkeretaapian maka pemerintah daerah diberi kesempatan seluas-luasnya untuk mengembangkan dan membangun perkeretaapian di daerahnya baik melalui investasi swasta maupun melalui BUMD," katanya.

Gubernur Jawa Tengah Ali Mufiz mengatakan dengan dioperasikan KRDE diharapkan mampu mengurangi kepadatan arus lalu lintas di rute itu, termasuk memperlancar roda perekonomian antara daerah tersebut.

Direktur Keselamatan dan Teknik Sarana Direktorat Jenderal Perkeretaapian Asril Syafei mengatakan pembiayaan modifikasi KRL menjadi KRDE bersumber dari dana APBN Direktorat Jenderal Perkeretaapian, melalui DIPA Satuan Kerja Pengembangan Sarana Perkeretaapian berjumlah Rp 38,9 miliar.

Dia mengatakan, satu KRDE pada kondisi beban penuh mampu mengangkut total penumpang yang duduk dan berdiri sebanyak 1250 orang. (ANT)

<< Mulai < Sebelumnya 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Selanjutnya > Akhiri >>

 
 
  PT. Dardela Yasa Guna - Jakarta - Indonesia © copyright 2006 - 2014