Who's Online
Ada 14 tamu sedang online


Our Partners
MGC
JTC
Nippon Koei
LAPI ITB
SMEC INTERNATIONAL


Jumlah Pengunjung



Artikel Favorit

 

 











 

 

home contact Us mail

Sejarah Perkeretaapian Indonesia
Selasa, 03 April 2007
Kehadiran kereta api di Indonesia ditandai dengan pencangkulan pertama oleh Gubernur Jenderal Hindia Belanda, Mr. L.A.J Baron Sloet van den Beele pada pembangunan jalan KA di desa Kemijen tanggal 17 Juni 1864.  Pembangunan diprakarsai oleh Naamlooze Venootschap Nederlandsch  Indische Spoorweg Maatschappij (NV. NISM) yang dipimpin oleh Ir. J.P de Bordes dari Kemijen menuju desa Tanggung sepanjah 25 Km dengan lebar sepur 1435 mm.  Ruas jalan ini dibuka untuk angkutan umum pada tanggal 10 Agustus 1867.

Keberhasilan swasta, NV. NISM membangun jalan kereta api antara  Kemijen – Tanggung diteruskan kemudian pada tanggal 10 Februari 1870 dengan menghubungkan kota Semarang - Surakarta sepanjang 110 Km yang akhirnya mendorong minat investor untuk membangun jalan kereta api di daerah lainnya. Tidak  mengherankan, kalau pertumbuhan panjang jalan rel antara 1864 - 1900 tumbuh dengan pesat. Kalau tahun 1867 baru 25 km, tahun 1870 berkembang menjadi 110  km, tahun 1880 mencapai 405 km, tahun 1890 menjadi 1.427 km dan pada  tahun 1900 menjadi 3.338 km.

Selain di Jawa, pembangunan jalan kereta api juga dilakukan di Sumatera Selatan (1914), Sumatera Barat (1891), Sumatera Utara (1886), Aceh (1874), bahkan tahun 1922 di Sulawesi juga telah dibangun jalan  kereta api sepanjang 47 Km antara Makasar - Takalar, yang pengoperasiannya dilakukan tanggal 1 Juli 1923, sisanya Ujungpandang - Maros belum sempat diselesaikan.

Baca selengkapnya...


Terakhir diperbaharui ( Selasa, 06 Mei 2008 )
Jika RUU Perkeretaapian Disahkan, PSO Tetap Diberlakukan
Jumat, 23 Maret 2007
Meski peluang swasta dalam bisnis transportasi kereta api terbuka, namun pemerintah berjanji tetap akan menerapkan Public Service Obligation (PSO). Dengan demikian, orang tidak mampu tetap dapat menikmati kereta api.

"Untuk masyarakat kita yang tidak mampu tetap akan ada subsidi berupa PSO itu," kata Menteri Perhubungan Hatta Rajasa seusai rapat kerja (raker) dengan Komisi V DPR di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Kamis (15/3/2007).

PSO tersebut menurut Hatta bisa diberikan kepada pihak swasta untuk penyelenggaraan kereta api kelas ekonomi seperti yang sekarang diterapkan kepada PT KA sebagai operator tunggal. "PSO itu kan penugasan pemerintah," ujarnya.

Mekanismenya, menurut Hatta, bisa mengacu kepada transportasi laut dan udara yaitu ditenderkan siapa yang layak menjadi operator. Kemudian selisih harga dari harga yang ditawarkan pihak swasta dan harga standar itulah yang akan menjadi tanggungan pemerintah melalui PSO. (sumber : detik.com)
Pengolahan Data Asset Pemda melalui Teknologi Informasi
Rabu, 21 Maret 2007
Pada Otonomi Daerah laju pertumbuhan ekonomi daerah merupakan suatu indikator ekonomi makro yang menggambarkan tingkat pertumbuhan ekonomi daerah. Pada berkembangnya pertumbuhan ekonomi tersebut dipengaruhi beberapa faktor, antara lain Sumber Daya Alam (SDA) yang tersedia, Sumber Daya Manusia (SDM) sebagai manajer, serta ketersediaan infrastruktur sebagai support dalam pengelolahan SDA yang ada. Infrastruktur yang memadai dalam bentuk sistem manajemen sangat diperlukan pada saat ini. Ketersediaan Informasi yang cepat, efektif, efisien serta terpadu merupakan suatu pilihan paling tepat dalam sistem manajemen.

Salah satu bentuk sistem manajemen yang diperlukan pada Pemerintah Daerah sekarang adalah sistem informasi manajemen aset yang berfungsi sebagai sumber informasi manajemen yang akurat, tepat, cepat dan up to date terhadap potensi aset yang ada. Dengan tersedianya sistem informasi ini pengelolaan aset dapat dikelola dengan baik dan pada gilirannya akan mengurangi biaya yang harus dikeluarkan oleh Pemerintah Daerah.
Terakhir diperbaharui ( Jumat, 23 Maret 2007 )
Baca selengkapnya...
<< Mulai < Sebelumnya 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Selanjutnya > Akhiri >>

 
 
  PT. Dardela Yasa Guna - Jakarta - Indonesia © copyright 2006 - 2009